16

“RANTAU”

Jawa, Madura, lalu Sumatra. Tiga budaya, yang berbeda. Menapaki hari demi hari dengan cerita yang tak lagi sama. Masa pertumbuhan dan perkembangan dengan budaya Jawa. Menjalani jenjang pendidikan dengan budaya Madura. Lalu, jenjang pekerjaan dengan mencoba budaya Melayu ala Sumatra.

Dunia luar yang sungguh luar biasa. Berbagai macam hal menjadi sebuah pelajaran berharga. Dalam budaya jawa ada berbagai macam hal yang membuatku merasa hampa saat jauh darinya. Ya, ada rasa kehilangan sekaligus kerinduan.

Tak jauh-jauh dari Ramadhan dan lebaran yang baru saja terlewati. Hampir 22 tahun usiaku masih setia dengan ramadhan ala Jawa. Dan awal usia 23 yang baru dua minggu kulewati mulai mengenal budaya melayu (Sumatra) yang sungguh-sungguh berbeda.

Jawa, diawal puasa sudah sibuk melakukan selamatan dengan buat-buat jajan seperti “Apem dan Gembrong” lalu ada doa-doanya. Menjelang akhir ketika malam 9 ada lagi “colok-colok malem songo” yang mana kita memasang obor kecil dari kayu yang dilapisi kain, ukurannya hanya 10-15cm yang dinyalakan kemudian ditaruh setiap sudut rumah. Entahlah aku tidak tahu apa maksudnya. Malam takbiranpun sudah di Mushola, perbanyak takbir dan doa. Sekarang sudah keliling tiap desa, arak-arakan ramai rasanya. Dan ketika lebaran saat-saat paling berharga adalah kumpul keluarga, ke makam, lalu keliling desa.

Di Sumatra, Batam lebih tepatnya. Daerah yang baru saja kutapaki dua minggu ini. Merasakan minggu terakhir dan lebaran disana. Aneh, ketika semuanya pada pulang ke kampung halamannya, aku malah pergi meninggalkannya. Kecewa, ya jangan ditanya, air mata yang mengalir tak henti-hentinya sudah cukup menggambarkan segalanya. Tapi, demi keluargaku nantinya, sabar dan lapang dada kunci utamanya.

Untung saja dekat dengan masjid daerah setempat, karena disini jauh dari kota. Tetangga, ya jauh-jauh adanya karena kebanyakan orang rantau juga.

Malam takbiran pastinya tidak seramai di Jawa (kurang tau juga kalau di Batam Centernya). Kemaren hanya 4 laki-laki dan 5 perempuan. Takbiran sampai jam 10, udah sepi. Takbiran lagi mungkin jam 3 pagi dilanjut sampai sholat idul fitri. Satu hal yang berbeda, disini lebaran harus sedia minuman kaleng. Jadi setiap keluarga terkadang sedia 5 sampai 20 kardus minuman kalengnya. Orang jawa yang rantau kesini pun juga ikutan hal yang sama.

Gak ada hari raya ketupat setelah seminggu lebaran. Jadi pas lebarannya itu ketupat disediakan sebanyak-banyaknya sebagai hidangan didampingi dengan semur daging dan opor ayam.

Ya, itulah setidaknya apa yang kurasakan perbedaannya Jawa Sumatra. Selain perbedaan waktu kurang lebih 40 menitan, yang membuatku sedikit bingung waktu sholatnya. Sekarang sudah biasa, subuh 04:40, dhuhur 12:08, asar 15: 38, maghrib 18:16, isya 19:30. Kurang lebih seperti itu, bisa kurang bisa lebih waktu sholatnya.

Semoga semuanya bahagia, dimudahkan segala urusannya. Selalu istiqomah di jalan Allah Ta’ala, dan berbakti pada orang tua. Salam anak rantau. 🙂

0

Hari Demi Hari

Kutulis sebuah rasa yang mengganjal dalam dada. Hari demi hari. Diwaktu yang sama pada belahan bumi Allah lainnya. Sebuah cita-cita, harapan, impian, kenangan dan pengorbanan.

Hari demi hari. Ketika canda tawa begitu jelas dalam pandangan mata. Ketika pelukan itu terasa hangatkan raga. Ketika doa itu masih terdengar jelas dari telinga. Dan air mata yang menghiasi pertemuan kita.

Hari demi hari. Semua tiada sama lagi. Meski mentari masih setia menyambut pagi. Tapi raga ini telah jauh pergi. Terpisah jarak ribuan kaki. Disana tempat kembali terukir mimpi.

Hari demi hari. Menikmati kebersamaan yang kian menipis setiap kali. Menebus dosa yang tak akan tersampaikan, bila menunggu nanti. Membuat kenangan indah agar terkenang dalam hati dan memori. 

Hari demi hari. Kusampaikan salamku terakhir kali. Besar harapan ini untuk kebahagiaanmu nanti. Demi sebuah pengalaman menuju kedewasaan diri. Demi sebuah mimpi untuk anak negeri. Semoga semuanya terjalani dengan niat karena Ilahi. Agar jalan ini tiada salah melangkahkan kaki. Semangat menggapai mimpi. 🙂
#Juni

#TahunIni

#AwalMimpiItuLagi

#KedewasaanDiri

#PulauDiujungNegeri

2

Kaukah Itu?

Hujan lagi-lagi menyapa hariku. Sore tanpa dirimu. Senjaku.

Aku rindu. Pikirinku selalu tentangmu.

Tentang hari indah, penutup usiaku.

Hujan mengusik hatiku.

Membuatku tenggelam dalam angan semu. Kaukah itu?

Aku rindu.

Bagaimana cara kau tau hatiku.

Bahkan bunga telah layu termakan waktu.

Hadirmu, tak kunjung tiba dipelupuk mataku.

Aku hanya takut.

Sesuatu yang membuatku, tiada sanggup menunggu bahkan mengharapkanmu.

Aku rindu. Kaukah itu.?

0

Petrikor

Rindu itu seperti menanti petrikor
Pada bumi yang sekarat

Menanti rintik pertama kali

Yang bersembunyi dalam wajah semi

Dengan daun warna warni
Rindu itu terkadang sulit dimengerti

Layaknya sebuah kata dengan banyak arti

Atau ketidak singkronnya pikiran dan hati

Saling membohongi

Bahwa rindu itu kian lama kian hari

Membuat sesak hati

0

Satu minggu

Satu minggu

Tenggelam dalam duniamu.

Dunia yang telah lama mengurungku.

Dalam beku.

Adakah air mata itu? Menetes untuk mengenang segala yang lalu?

Atau. Tawa untuk melupakannya?

Satu minggu.
LA. 16.4.3

0

Berbahagialah…


Satu per satu semua akan menghilang. Pergi. Terkenang bahkan terlupakan. Begitu juga tentang pertemuan. Dia akan menemukan masa perpisahan. Kini telah datang masa masa yang pantas untuk disebut kenangan. Aku, kau dan segala yang ada saat ini.

Kau tahu, tidak ada yang ingin terlihat menyedihkan didepan kawannya. Setiap orang memiliki caranya untuk menyembunyikan perasaan dalam hatinya. Tersenyum, walaupun hati terluka. Dan tidak akan pernah ada air mata buaya, pada hati yang berusaha untuk membuat semuanya tampak baik-baik saja.

Aku suka saat kita membuat kenangan itu terasa indah. Tertawa, bahkan menangis bersama. Bekerja keras, mencurahkan segala yang kita bisa. Aku yakin akan merindukannya. Itu pasti.

Kini saatnya membuat pertemuan baru lainnya. Pada masa yang berbeda. Biarkan semua yang telah kita lalui bersama, menjadi kenangan. Membuat kita lebih baik kedepannya. Semoga bahagia selalu ada dalam hari-hari kita. Tak akan lagi ada kecewa, prasangka, dan apapun yang membuatnya tiada berguna. Menjembut bahagia kita, jauh lebih bahagia. Daripada meratapi segala yang telah berlalu. Berbahagia, dan sambut cinta itu bersama.

Terima kasih untuk segala yang indah. Terima kasih untuk kecewa, yang mengajarkanku segalanya. Aku banyak belajar karenanya. Aku janji, akan lebih baik untuk masa depanku lainnya. Berbahagialah…


Bangkalan, 18 Maret 2017

0

“Pergi,”

Senja bukan milik kita lagi
Yang keindahannya bisa kita nikmati

Setiap datang ke bukit ini

Dia milik sang gerimis

yang datang lalu tiba-tiba pergi

Menyisakan Senja kelabu hari ini

Seandainya kau mengerti

Bagaimana perasaan dan diri ini

Kau tidak akan pernah berkata tinggi

Untuk membuat diri tetap disini

Aku, ingin pergi..

Karena kau tau

Senja bukan milik kita lagi

Aku akan pergi mencari sang mentari

Yang memberikan warna pada pagi

Bukan pada bukit ini

Ataupun pesisir yang kita injak kini

Lamongan, 25 February 2017