0

“Bolehkah Aku Kembali Kesana”

Begitu cepat waktu berlalu, kapalku kini membawa jasadku kembali ketempat yang tidak pernah aku ingini. Menjalani rutinitas biasa dengan segala kebohongan didalamnya. Hatiku, tertinggal disana dalam waktu yang begitu lama.
Ujung, 8 Oktober 2018. Hari ini aku hanya ingin sendiri, Sesuatu begitu menganggu pikiranku. Aku benci itu.

Iklan
0

“Aku adalah Aku, Bukan Dia atau Mereka”

Untukmu yang pernah mengenalku dulu, jangan kaget dengan diriku saat ini. 😀

Aku tidak pernah menganggap apa yang aku jalani saat ini lebih buruk dari tahun-tahun lalu. Aku juga tidak berpikiran apa yang aku jalani saat ini itu yang terbaik dari tahun-tahun yang telah lalu juga. Yang aku tahu, aku tengah berjuang demi masa depanku.

Aku tidak sebaik pikiranmu tentangku sebagai gadis lugu, pun tidak seburuk saat kau nanti melihatku dengan penampilan baruku. Mengapa aku harus repot-repot menuliskan tentang diriku, mungkin tidak berarti penting buatmu. Tapi, aku hanya ingin menuliskan alasan kecilku di blog pribadi usangku.

Inilah aku saat ini, masih dengan gaya bicara yang kau kenal dulu. Manja, egois, tapi sedikit perhatian saat kau kuanggap penting dalam mengisi cerita kehidupanku. Aku hanya berubah dalam penampilan, tidak sebaik dulu dan juga tidak seburuk pemikiranmu. uppss.. 😀

Aku mengakui kalau ini bukan gayaku, dan aku sedang memikirkan sekaligus mencari bagaimana gaya yang tepat untukku. Membutuhkan banyak waktu untuk membuatku nyaman dengan penampilan baruku. Jujur aku merindukan diriku yang dulu. Dan aku mengusahakan untuk itu. hehe

Aku tidak lagi peduli apa yang orang bicarakan tentangku. Tentang diriku yang dianggap hina pun aku tidak masalah. Karena aku tahu, aku tidak lebih hina dari dia yang membicarakan apa yang tidak dia ketahui banyak tentangku. Meskipun aslinya aku harus menangis menahan sakit hati, kepikiran setengah mati, sampek berat badanku turun meski tidak ada program diet yang kuikuti. Intinya aku mencoba tidak peduli, karena ini kuanggap proses dalam menapaki kisah nyata hidup ini, bukan kisah wattpad yang kusukai.

Inilah aku, sampai saat ini terekam jelas siapa saja sosok yang peduli padaku. Menerima bagaimana pun keadaanku, mendukung dan ada untukku meski hanya dukungan singkat lewat pesan atau telepon. Mungkin tak banyak yang memikirkanku, melupakanku pasti mudah saja. Sama halnya aku juga, karena yang aku pikirkan hanya orang-orang yang peduli padaku dan ada untukku disaat susah senang menapaki jalan cerita “kisah nyata” kehidupanku. 

Terima kasih untuk teman yang lebih dari saudara sendiri, yang memberikan dukungan saat aku tengah menapaki masa sulit dalam kehidupan ini. Terima kasih untuk saudara yang sudah bersedia menghina diri ini, berkat anda saya mengerti banyak tentang kehidupan ini. Terima kasih untuk orang-orang yang telah banyak mengukir sebagian singkat cerita dalam hidup ini. Aku sungguh sayang kalian karena Allah, sesungguhnya sesama muslim adalah saudara. Mencintai mereka adalah hal yang utama. hehe

Dan aku masih harus semangat menjalani episode-episode baru kehidupan ini. Sedikit mengukir kembali mimpi-mimpi, menapaki sedikit demi sedikit. Pemimpi ulung, yang butuh patner untuk berjuang bersama. hehe

Berbahagia selalu, Libatkan Allah dalam setiap langkahmu. Karena tidak akan ada kecewa saat hati hanya berharap PadaNya. Ganbatte kudesai.. 🙂
Surabaya, 3 Oktober 2018. Kukira tanggal 2 menjadi hari merdeka, ternyata masih perlu perjuangan juga. Tanggal 3 ini kuharap beneran merdeka, semoga tidak kecewa. wkwkwk #MenantiGaji#BosBesarSakitJadiLupaTransfer#

3

“Aku Benci Sesuatu Yang Menganggu Pikiranku”

Aku benci entah apapun yang menganggu pikiranku. Membuatku terjaga dari tidur malamku. Membuatku tidak bisa menyentuh makanan kesukaanku, dan membuatku harus bolak balik ke kamar mandi saat cuaca sedang dingin-dinginnya.

Aku benci apapun yang menganggu pikiranku. Membuat aku lelah mengusap air mata yang terus jatuh dari pelupuk mataku. Membuatku takut melangkah dihari esok. Membuatku merasa sesak hanya untuk mengukir sebuah senyum ketulusan.

Aku benci apapun yang mengganggu pikiranku. Membuatku ingin pergi saja jauh dari keluargaku. Mencari kehangatan baru dari orang-orang yang tidak mengenalku. Membuat semuanya baru saat aku tidak merasa terbebani dengan segala pikiran itu.

0

“Dia Pulang”

Dia telah pulang, sekian tahun di kota orang. Dia telah pulang, dengan sosok yang hampir terlupakan. Dia telah pulang, juga dengan rasa yang mungkin telah tertinggal.

Berapa hari, bulan atau kah tahun. Dia pulang tapi tak pernah datang. Dia pulang tapi meninggalkan harapan. Dia pulang membunuh segala impian. Dia pulang dan tak akan datang.

LA, 24 juni 2018. Merindu seseorang, merindu ketenangan dan kebahagiaan. 

0

Aku Sungguh Sayang Mereka..

Kurasa dekat akan lebih akrab. Rindu tidak akan terasa berat. Tapi, sakit hati makin terasa menjerat.

Rasa sayang memang terkadang membingungkan. Saat rasa sakit hati begitu dominan. Hingga akhirnya harus berani memutuskan, bertahan atau merelakan.

Biarlah jarak kembali memisahkan. Rasa rindu atau sakit hati yang harus bertahan untuk bersemayam. Atau akankah ada rasa baru yang akan menggantikan.

Aku hanya ingin bilang “Aku sungguh sayang mereka”. Meski sakit hatiku tidak sebanding dengan sakit hati serta rasa malunya. Aku sunggu sayang mereka. Meski jarak harus kembali memisahkan kita selamanya. Biarlah bahagia selalu bersamanya. Meski nanti aku tidak tahu mampukah aku bahagia tanpa mereka.
LA, 18 Juni 2018. Senin di hari setelah lebaran. Waktunya kembali mengejar impian. Selamat berjumpa kembali. Berbahagialah selalu. 🙂

0

“Sahabat Sampai Surga, InsyaAllah”

Aku bersyukur bisa mengenal dia. Melewati hari demi hari masa abu-abu putih, hingga menyempatkan waktu untuk melepas kangen di hari kuliah dan kerja saat ini. Sebentar lagi dia sudah menemukan pendamping sehidup sesurganya. Barakallahu laka, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah wa rahmah. Aamiin 🙂

Aku rasa akan semakin jarang waktu kita untuk berjumpa. Masa depan telah menyambut kita dengan senyuman ramahnya. Kita akan kembali bertemu wajah-wajah baru yang akan sedikit mewarnai kehidupan selanjutnya. Semoga terus bahagia. Allah menyayangi kita semua. :’)

Aku merasa malam ini akan menjadi kenangan yang tidak ingin terlupakan. Aku anggap sebagai kado untuk ulang tahunku besok pagi yang akan datang. Malam senin 10 juni 2018 di pasar malam kecamatan. Seperti gadis kecil yang merengek ingin naik gondola, yang istilah kerennya “Angkringan” ada yang menyebutnya “Tastasan”.

Waktu rasanya begitu singkat, aku yang berangkat ke rumahnya bersama teman, kemudian buka bersama, sholat berjamaah di masjid, main-main di pasar malam. Sampe temanku izin pulang duluan karena dicari orang tuanya. Jadi tinggal aku berdua bersenang-senang seperti masa kecil kurang bahagia. Diantarkan pulang ke rumah dan saat pamit pulang sandalnya sebelahan sama sandal ibuk, hingga akhirnya pergi menyusul untuk memberikan pasangan halal sandalnya.

Ya Allah berilah dia kebahagiaan, kedamaian hati, kecukupan rizky. Ya Allah, Ingatkan bahwa kita pernah sholat berjamaah di masjid sana. Saling mendoakan dalam kebaikan. Ya Allah, sayang sama sahabatku ini. Yang meski jauh masih begitu tulus mencinta saudaranya. Berbahagia mymumch. Semoga kita bertemu di surga Allah nantinya. Aamiin

Ramadhan di kampung halaman, Ahad 10 Juni 2018.

0

“Siapa? Dukun? Sejenis buah berwarna kuning kah?”

Masih terlalu pagi untuk memulai hari (yaa.. bagi jomblo yang masih asik menunggu panggilan kerja). Seperti biasa waktu masih menunjukkan pukul 6 WIB, di hari senin yang biasanya kita memulai hari dengan bekerja. Aku main ke tetangga depan rumah, menanyakan seputaran kain yang aku taruh untuk dijahit beberapa bulan yang lalu. Hingga akhirnya duduk sebentar dan aku mulai dihajar dengan berbagai pertanyaan seputar kerjaan.

Awalnya bertanya “Kamu mau kerja dimana? Ngelamar jadi guru lagi?”. Aku jawab saja “Di kota ini, iya dikasih tau temanku ada lowongan guru SMP”. Bahasan pun berlanjut yang intinya aku terkesan diceramahi panjang lebar dan dipojokkan. Okey, ini adalah resiko yg harus aku terima saat memutuskan pulang dari tanah rantauan setelah bekerja di kantoran 5 bulan.

Pertama mereka bilang soal gaji, semua tahu kalau gaji seorang guru honorer itu terlalu kecil. Awal-awal kerja mungkin 250 dan terbesar adalah 500rb setelah bertahun-tahun kerja, kalau diangkat jadi PNS, mungkin saja bisa makmur tapi yang namanya pengabdian itu cukup murah sekali. Kedua, kenapa jauh-jauh harus ke kota ini, apakah jadi guru di sekolah terdekat tidak bisa. Dengan gaji kecil kamu bagaimana makan sama tinggalnya. Seharusnya kamu mikir, lebih baik kerja di pabrik saja. Sebelumnya aku juga sudah melamar disalah satu yayasan terdekat, ada panggilan pertama kemudian masih samar-samar sampai saat ini (okey, anggap saja aku sudah tereliminasi). Dan, hal itu ditanyakan oleh mereka bagaimana kelanjutannya itu. Oh my Allah.. 😥

Ketiga, ini nih yang aku prihatin dari kebanyakan orang terutama di desaku tercinta ini. Masih percaya yang namanya dukun, orang yang disebut pintar karena mengetahui hal-hal gaib. Mereka dengan begitu santainya bilang “Ibukmu itu sejak kemaren2 sudah tak suruh pergi ke si A untuk tanya soal kemana kamu harus cari kerja, jodohmu itu dekat atau enggak, kamu udah gak berumur lagi tapi masih aja asik sendiri, tapi kekeh gak mau terus”.(Ambil napas dalam dan hembuskan perlahan, sabaar). Okay, sejak awal aku sudah bilang ke ibuk aku tidak percaya dukun, aku tidak mau langkahku mencari kerja ataupun jodoh ada campur tangan dukun. Bukannya berkah malah muncul musibah. Nah lo aku jadi kebawa emosi, sabaar. 

Mereka selalu bilang “Hari ini kalau tanpa campur tangan dukun itu sulit, kamu tahu mas B ini juga pakai dukun untuk masuk ke kampusnya dulu biar jadi ini. Bukan apa biar orang-orang yang melihatnya itu jadi wah. Si ini juga pakai dukun untuk tahu kerjaan ini cocok tidak, betah tidak dia disana”. Oh mbah dukun, eksistensinya mah luar biasa, apalagi sekarang lagi tenar gegara tayangan disalah satu stasiun tv.

Dukun, paranormal, orang pintar, adalah orang-orang yang bekerja sama dengan jin yang sukanya mencuri dengar rahasia langit. Bukankah segala hal yang gaib terjadi atas kehendak Allah. Kita hanya perlu untuk terus berusaha, kerja keras dan doa yang terus mengiringinya. Saat kita berniat ibadah, percaya dan yakin pada Allah bila memang sudah rejekinya tidak akan kemana. Meskipun ramalan dukun itu benar dan semuanya jadi mudah, tapi tidak akan berguna jika bukan keberkahan yang diterima.

Mendatangi dukun ibadah sholat tidak diterima 40 hari, termasuk syirik yang Allah sangat membencinya, karena kita telah menduakannya. Bukan apa, kita yang tidak ke dukun saja sudah ibadah semampu kita itu masih syukur kalau Allah terima, nah kalo masih ngegantung dilangit, yak apa coba. Aku selalu berdoa semoga para dukun itu kembali menemukan cahaya cinta Illahi, kembali menemukan hidayahnya. Semoga diri ini, keluarga dan tetangga senantiasa dicurahi hidayah untuk berada lurus dalam agama Islam yang benar, ditetapkan hati dalam teguhnya keimanan.

LA, Ahad pagi 4 juni 2018. Ramadhan kareem. Ya Allah teguhkan lah hati ini untuk lurus di jalan keimanan diatas kebenaran agamaMu. :’)