0

“Catatan Untuk Hujan”

Hari kesekian kali. Hujan turun membasahi bumi. Memberikan ruang pada hati untuk mengingat kenangan tempo hari. Saat ini tiada sama lagi.

Desember hampir berakhir, menyambut januari. Dengan sejuta mimpi, kembali mewarnai hari. Hujan tahun ini, pun tak akan sama dengan tahun nanti.

Dahulu, hujan datang pada siang yang terang. Membawa kenangan tentang seorang yang pernah disayang. Berjalan diantara gerimis, dengan langkah tegap dan senyum manis.

Saat ini, hujan kembali datang. Namun pada sebuah harapan yang belum sampai pada tujuan, hanya tahap penantian. Bersama senyum dan langkah penuh kepastian. Kuharap kaulah yang selama ini terukir dalam doa yang kusemogakan.

Suatu saat nanti, disaat hujan kembali menyapa. Memberikan senyuman manis diwajah manusia serta semuanya. Kuharap kau telah ada, bersama menggenggam harapan kita. Menuju hari esok lebih bahagia.

Hujan, untuk sebuah kenangan dan harapan. 

Sidoarjo, 27 Desember 2017

Dikantor yang sebentar lagi juga tinggal kenangan. 

Iklan
0

Hujan lagi…

Datang hari pada saat hujan turun untuk kesekian kali. Disaat langkah kaki menginjak tanah baru ini. Kemudian kembali pada saat jiwa menangis seorang diri di tanah tanpa sanak family.

Langit seakan mengerti, memahami bagaimana perasaan dijiwa ini. Kegalauan yang menutupi sanubari. 

Akankah angin sudi membawanya pergi. Kemudian mendatangkan kedamaian dalam hati. Menggantikan buih-buih yang telah terbang tinggi.

16

“RANTAU”

Jawa, Madura, lalu Sumatra. Tiga budaya, yang berbeda. Menapaki hari demi hari dengan cerita yang tak lagi sama. Masa pertumbuhan dan perkembangan dengan budaya Jawa. Menjalani jenjang pendidikan dengan budaya Madura. Lalu, jenjang pekerjaan dengan mencoba budaya Melayu ala Sumatra.

Dunia luar yang sungguh luar biasa. Berbagai macam hal menjadi sebuah pelajaran berharga. Dalam budaya jawa ada berbagai macam hal yang membuatku merasa hampa saat jauh darinya. Ya, ada rasa kehilangan sekaligus kerinduan.

Tak jauh-jauh dari Ramadhan dan lebaran yang baru saja terlewati. Hampir 22 tahun usiaku masih setia dengan ramadhan ala Jawa. Dan awal usia 23 yang baru dua minggu kulewati mulai mengenal budaya melayu (Sumatra) yang sungguh-sungguh berbeda.

Jawa, diawal puasa sudah sibuk melakukan selamatan dengan buat-buat jajan seperti “Apem dan Gembrong” lalu ada doa-doanya. Menjelang akhir ketika malam 9 ada lagi “colok-colok malem songo” yang mana kita memasang obor kecil dari kayu yang dilapisi kain, ukurannya hanya 10-15cm yang dinyalakan kemudian ditaruh setiap sudut rumah. Entahlah aku tidak tahu apa maksudnya. Malam takbiranpun sudah di Mushola, perbanyak takbir dan doa. Sekarang sudah keliling tiap desa, arak-arakan ramai rasanya. Dan ketika lebaran saat-saat paling berharga adalah kumpul keluarga, ke makam, lalu keliling desa.

Di Sumatra, Batam lebih tepatnya. Daerah yang baru saja kutapaki dua minggu ini. Merasakan minggu terakhir dan lebaran disana. Aneh, ketika semuanya pada pulang ke kampung halamannya, aku malah pergi meninggalkannya. Kecewa, ya jangan ditanya, air mata yang mengalir tak henti-hentinya sudah cukup menggambarkan segalanya. Tapi, demi keluargaku nantinya, sabar dan lapang dada kunci utamanya.

Untung saja dekat dengan masjid daerah setempat, karena disini jauh dari kota. Tetangga, ya jauh-jauh adanya karena kebanyakan orang rantau juga.

Malam takbiran pastinya tidak seramai di Jawa (kurang tau juga kalau di Batam Centernya). Kemaren hanya 4 laki-laki dan 5 perempuan. Takbiran sampai jam 10, udah sepi. Takbiran lagi mungkin jam 3 pagi dilanjut sampai sholat idul fitri. Satu hal yang berbeda, disini lebaran harus sedia minuman kaleng. Jadi setiap keluarga terkadang sedia 5 sampai 20 kardus minuman kalengnya. Orang jawa yang rantau kesini pun juga ikutan hal yang sama.

Gak ada hari raya ketupat setelah seminggu lebaran. Jadi pas lebarannya itu ketupat disediakan sebanyak-banyaknya sebagai hidangan didampingi dengan semur daging dan opor ayam.

Ya, itulah setidaknya apa yang kurasakan perbedaannya Jawa Sumatra. Selain perbedaan waktu kurang lebih 40 menitan, yang membuatku sedikit bingung waktu sholatnya. Sekarang sudah biasa, subuh 04:40, dhuhur 12:08, asar 15: 38, maghrib 18:16, isya 19:30. Kurang lebih seperti itu, bisa kurang bisa lebih waktu sholatnya.

Semoga semuanya bahagia, dimudahkan segala urusannya. Selalu istiqomah di jalan Allah Ta’ala, dan berbakti pada orang tua. Salam anak rantau. 🙂

0

Hari Demi Hari

Kutulis sebuah rasa yang mengganjal dalam dada. Hari demi hari. Diwaktu yang sama pada belahan bumi Allah lainnya. Sebuah cita-cita, harapan, impian, kenangan dan pengorbanan.

Hari demi hari. Ketika canda tawa begitu jelas dalam pandangan mata. Ketika pelukan itu terasa hangatkan raga. Ketika doa itu masih terdengar jelas dari telinga. Dan air mata yang menghiasi pertemuan kita.

Hari demi hari. Semua tiada sama lagi. Meski mentari masih setia menyambut pagi. Tapi raga ini telah jauh pergi. Terpisah jarak ribuan kaki. Disana tempat kembali terukir mimpi.

Hari demi hari. Menikmati kebersamaan yang kian menipis setiap kali. Menebus dosa yang tak akan tersampaikan, bila menunggu nanti. Membuat kenangan indah agar terkenang dalam hati dan memori. 

Hari demi hari. Kusampaikan salamku terakhir kali. Besar harapan ini untuk kebahagiaanmu nanti. Demi sebuah pengalaman menuju kedewasaan diri. Demi sebuah mimpi untuk anak negeri. Semoga semuanya terjalani dengan niat karena Ilahi. Agar jalan ini tiada salah melangkahkan kaki. Semangat menggapai mimpi. 🙂
#Juni

#TahunIni

#AwalMimpiItuLagi

#KedewasaanDiri

#PulauDiujungNegeri

2

Kaukah Itu?

Hujan lagi-lagi menyapa hariku. Sore tanpa dirimu. Senjaku.

Aku rindu. Pikirinku selalu tentangmu.

Tentang hari indah, penutup usiaku.

Hujan mengusik hatiku.

Membuatku tenggelam dalam angan semu. Kaukah itu?

Aku rindu.

Bagaimana cara kau tau hatiku.

Bahkan bunga telah layu termakan waktu.

Hadirmu, tak kunjung tiba dipelupuk mataku.

Aku hanya takut.

Sesuatu yang membuatku, tiada sanggup menunggu bahkan mengharapkanmu.

Aku rindu. Kaukah itu.?

0

Petrikor

Rindu itu seperti menanti petrikor
Pada bumi yang sekarat

Menanti rintik pertama kali

Yang bersembunyi dalam wajah semi

Dengan daun warna warni
Rindu itu terkadang sulit dimengerti

Layaknya sebuah kata dengan banyak arti

Atau ketidak singkronnya pikiran dan hati

Saling membohongi

Bahwa rindu itu kian lama kian hari

Membuat sesak hati

0

Satu minggu

Satu minggu

Tenggelam dalam duniamu.

Dunia yang telah lama mengurungku.

Dalam beku.

Adakah air mata itu? Menetes untuk mengenang segala yang lalu?

Atau. Tawa untuk melupakannya?

Satu minggu.
LA. 16.4.3